Serang,radiusbanten.com– Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Serang melakukan kunjungan kerja ke Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Serang.
Kunjungan ini dilakukan dalam rangka monitoring dan evaluasi terkait angka pengangguran serta ketersediaan lapangan pekerjaan di Ibu Kota Provinsi Banten tersebut.
Anggota Komisi II diterima langsung oleh jajaran kepala dinas beserta staf Disnakertrans untuk membahas strategi pemulihan sektor ketenagakerjaan secara mendalam.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Serang, Edy Irianto, menyatakan bahwa monitoring ini sangat krusial mengingat isu pengangguran dan penciptaan lapangan kerja menjadi rapor utama yang langsung dirasakan oleh masyarakat.
Pihaknya ingin memastikan data terkini dan sinkronisasi program penyerapan tenaga kerja berjalan optimal.
“Kami datang untuk menyinkronkan data riil di lapangan. Kami ingin tahu berapa persisnya angka pengangguran terbuka saat ini dan sejauh mana efektivitas bursa kerja atau job fair yang selama ini diadakan,” ujar Edy Irianto saat dikonfirmasi setelah pertemuan, Rabu 8 Juli 2026.
Edy menekankan bahwa Disnakertrans tidak boleh hanya bertindak sebagai pencatat angka, melainkan harus agresif menjemput bola dengan menggandeng sektor industri dan swasta di Kota Serang.
Ia menyoroti pentingnya program pelatihan berbasis kompetensi agar calon tenaga kerja lokal mampu bersaing.
“Masalah utama kita seringkali bukan cuma soal lowongan kerja yang minim, tapi adanya mismatch atau ketidaksesuaian antara keahlian yang dimiliki pencari kerja dengan kebutuhan pasar industri. Oleh karena itu, Komisi II mendorong Balai Latihan Kerja (BLK) untuk memperbanyak pelatihan yang relevan dengan tren industri saat ini,” tambahnya.
Di akhir keterangannya, Edy menegaskan bahwa DPRD Kota Serang akan terus mengawal komitmen Disnakertrans dalam memperluas akses informasi lowongan kerja agar lebih transparan dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Kami di legislatif siap mendukung dari sisi penganggaran program yang sifatnya konkret meningkatkan serapan tenaga kerja lokal. Namun, fungsi pengawasan akan tetap kami perketat agar angka pengangguran di Kota Serang bisa terus ditekan secara signifikan,” ungkap politisi PDI Perjuangan tersebut.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pelatihan dan Produktivitas Disnakertrans Kota Serang, Nafis Hani, menyampaikan bahwa penyerapan tenaga kerja harus berjalan tegak lurus dengan keahlian (skill) yang dimiliki oleh masyarakat.
Oleh karena itu, Disnakertrans gencar mendorong program pelatihan kerja melalui kolaborasi dengan Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP).
“Kita bekerja sama dengan BBPVP terkait dengan pelatihan-pelatihan. Kita harus menyiapkan skill kemampuan yang dimiliki warga agar sejalan dengan kebutuhan perusahaan,” ujar Nafis.
Sebagai contoh, Nafis menyebutkan bahwa sempat ada kebutuhan untuk posisi penerjemah (translator) bahasa Mandarin di kawasan Industri Sawah Luhur. Namun, pemenuhan posisi tersebut sempat terkendala karena minimnya ketersediaan SDM lokal yang menguasai bahasa tersebut.
“Kemarin yang awal-awal dibutuhkan itu translator Mandarin, tapi kita belum dapat. Makanya kita mendorong BBPVP untuk memberikan pembekalan pelatihan bahasa Mandarin untuk warga Kota Serang agar mereka bisa dilatih dan masuk ke perusahaan di Sawaluhur,” tambahnya.
Selain pelatihan bahasa, Disnakertrans juga tengah memfasilitasi berbagai program pelatihan lainnya, termasuk pelatihan public speaking yang sedang berjalan, hingga pelatihan teknis seperti pengelasan (welder).
Disnakertrans juga berencana meminta data konkret dari BBPVP mengenai warga Kota Serang yang telah menyelesaikan pelatihan sertifikasi guna disalurkan dan dikomunikasikan langsung dengan pihak perusahaan yang membutuhkan.
Berdasarkan data statistik saat ini, jumlah pengangguran di Kota Serang berada di kisaran 26.000-an orang.
Menanggapi pandangan dari pihak legislatif mengenai rencana pengembangan Kawasan Sawal Luhur menjadi kawasan modern yang diproyeksikan menampung sekitar 100 perusahaan, Nafis menilai di atas kertas hal tersebut menjadi peluang besar untuk menyelesaikan persoalan pengangguran. Namun, tantangan utamanya kembali pada kesiapan kapasitas SDM lokal.
“Kalau hitung-hitungan di atas kertas, harusnya selesai masalah pengangguran di Kota Serang. Tapi ya balik lagi, sekarang kemampuan warga lokalnya bisa tidak memenuhi spesifikasi yang diperlukan oleh perusahaan,” jelasnya.











