Serang, radiusbanten.com – Momen berbuka puasa biasanya identik dengan gorengan atau kolak.
Namun, pemandangan berbeda terlihat dalam acara buka puasa bersama yang diinisiasi oleh Relawan Fesbuk Banten News (FBn) dan Komunitas Bahasa Jawa Serang (BJS) di Rumah Singgah kawasan Taktakan, Kota Serang.
Bukan sekadar ajang silaturahmi, kegiatan ini menjadi panggung bagi puluhan kuliner tradisional Banten yang kini mulai langka.
Upaya ini dilakukan untuk menjaga warisan leluhur agar tidak tergerus oleh tren makanan modern.
Dalam acara tersebut, tersaji beragam kudapan legendaris yang memanjakan lidah. Beberapa diantaranya mungkin terdengar asing bagi generasi muda, namun memiliki cita rasa yang otentik.
Seperti jajanan pasar Ketan gerong, ratuban, jejorong, cecuer, pasung, hingga lupis.
Nama kudapan yang unik salah satu yang mencuri perhatian adalah Kontol Sapi, jajanan khas berbahan tepung beras dan kelapa yang namanya kerap mengundang tawa namun rasanya sangat gurih.
Tak ketinggalan hidangan ikonik seperti Rabeg ( olahan daging kambing khas kesultanan), Angeun Lada, Gerem Asem, dan oseng Kulit Tangkil.
Inisiator kegiatan, Lulu Jamaludin, menegaskan bahwa penyajian menu-menu ini adalah misi kebudayaan. Menurutnya, setiap suapan kuliner lokal mengandung sejarah dan tradisi masyarakat Banten.
“Setiap makanan khas daerah punya cerita dan bahan lokal yang menjadi bagian dari identitas budaya. Kita harus terus mempromosikan kuliner Banten agar tidak hilang ditengah gempuran makanan modern”ujar Lulu Jamaludin, Minggu, 15 Maret 2026.
Selain aspek budaya, pelestarian kuliner ini juga berdampak langsung pada ekonomi lokal. Semakin tinggi minat masyarakat terhadap panganan tradisional, semakin berdaya pula para pelaku UMKM dan petani bahan baku di Banten.
Senada dengan Lulu, pegiat Bahasa Jawa Serang (BJS), Manar Mas, menyebutkan bahwa menjaga budaya harus dilakukan secara menyeluruh, baik dari lisan (bahasa) maupun rasa (kuliner).
Kegiatan yang bertepatan dengan Milad ke-16 FBn dan BJS ini diharapkan menjadi pemantik bagi komunitas lain untuk bangga memamerkan kekayaan lokal.
“Kami ingin generasi muda tetap mengenal budaya daerahnya sendiri. Bahasa Jawa Serang kami lestarikan, begitu juga kulinernya,” jelas Manar.











