Serang, radiusbanten.com – Pemerintah Kota Serang terus mematangkan komitmennya dalam melakukan percepatan pembangunan infrastruktur, khususnya melalui program betonisasi jalan di berbagai titik strategis.
Demi menyiasati keterbatasan anggaran, jajaran Wali Kota Serang Budi Rustandi menerapkan strategi pemangkasan kegiatan seremonial serta mengoptimalkan kolaborasi melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari pihak swasta.
Salah satu pemanfaatan dana non-APBD terlihat pada proyek pengerjaan Jalan Kenari Kasunyatan, yang menjadi jalur penghubung wilayah Pemerintah Kota Serang dengan Kabupaten Serang.
Betonisasi jalan perbatasan ini sepanjang 517 meter dengan lebar 5 meter ini sepenuhnya dibiayai melalui program CSR dari PT SBS. Proyek ini masuk ke dalam skala prioritas karena menjadi urat nadi perekonomian masyarakat setempat, dan target dirampungkan dua bulan.
keterlibatan sektor swasta sangat masif selama periode 2025–2026. Proyek di Jalan Kenari ini bahkan menjadi titik ke-6 atau ke-7 yang sukses digarap lewat jalur CSR.
Pihak DPUPR sendiri memilah mana yang menjadi skala prioritas agar ketersediaan APBD tetap selaras dengan program strategis daerah lainnya hingga tahun 2027 mendatang//
Wali Kota Serang ​Budi menegaskan bahwa kepala daerah harus berani mengambil keputusan ekstrem dalam memilah porsi APBD agar bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
​”Menyiasati anggaran, kepala daerah itu harus me-manage APBD-nya sendiri. Anggaran yang tidak menyentuh semua masyarakat saya coret. Kunker-kunker (kunjungan kerja) dan seremonial yang enggak penting, coret. Alihkan semua kepada infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan,” ujarnya tegas.
​Budi menambahkan meskipun APBD Kota Serang tergolong kecil di wilayah Banten, progres pembangunan infrastruktur di era pemerintahan Budi-Agis tetap terlihat nyata berkat efisiensi ketat tersebut.
​Terkait metode pembangunan, Pemkot Serang akan menyesuaikan dengan fungsi dan kapasitas beban jalan. Jalan di kawasan perkampungan yang cenderung sepi akan menggunakan hotmix demi efisiensi biaya.
Sebaliknya, jalur yang kerap dilalui kendaraan berat atau truk wajib menggunakan betonisasi agar memiliki daya tahan jangka panjang dan tidak mudah rusak.
​Kepala Dinas Pekerjaan Penataan Ruang Iwan Sunardi mengatakan, progres fisik infrastruktur jalan menunjukkan tren yang positif. Hingga saat ini, realisasi pengerjaan betonisasi di lapangan dilaporkan telah menyentuh angka 80 persen dari total 17 titik yang direncanakan.
​Menanggapi dinamika pembangunan dan berbagai masukan dari warga, Iwan berjanji akan memperketat aspek pengawasan mutu secara berkala di lapangan.
​”Minggu ini kami dengan tim PUPR akan terjun langsung ke lapangan untuk mengkaji masukan positif maupun negatif dari media dan masyarakat. Kami juga melibatkan konsultan pengawas agar peninjauan berjalan objektif,” ungkap Iwan Sunardi.
​Terkait spesifikasi fisik, pengerjaan jalan ini memiliki lebar bervariasi mulai dari 4, 5, hingga 6 meter, disesuaikan dengan kondisi riil dan kebutuhan kapasitas lalu lintas di masing-masing area.











