Serang, radiusbanten – Setahun kepemimpinan, Wali Kota Budi Rustandi – Wakil Wali Kota Serang Nur Agis Aulia on the track.
Meski adanya pemotongan anggaran, pembangunan infrastruktur dan program kemasyarakatan diklaim tetap berjalan sebagai pondasi awal kemajuan daerah.
Wakil Wali Kota Serang Nur Agis Aulia,
mengungkapkan tahun pertama merupakan fase krusial untuk membangun pondasi pembangunan, ia menegaskan segala permasalahan daerah tidak bisa diselesaikan secara instan, namun progresnya sudah mulai dirasakan masyarakat.
”Kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Tahun pertama ini pastinya bangun pondasi dulu, jadi tidak bisa langsung semuanya selesai. Tapi kita sudah on the track, tinggal bagaimana mengawal dan melanjutkan program-program lainnya ke depan,” ujarnya Jumat, 20 Februari 2026.
Agis menjelaskan, setidaknya ada 13 program Budi -Agis yang saat ini sudah berjalan. Salah satu realisasi yang dinantikan masyarakat ditahun ini adalah pembagian seragam sekolah gratis.
”Untuk detail teknis pembangunan fisik dan program lainnya, datanya sudah diinventarisir di Bappeda. Yang jelas, hampir 13 program sudah berjalan. Beberapa bahkan direalisasikan tahun ini, seperti seragam buku gratis,” tambahnya.
Ia juga mengklaim telah menerima respon positif dari tokoh masyarakat yang merasa puas dengan perubahan yang terjadi, sembari menitipkan pesan agar konsistensi pembangunan terus ditingkatkan.
Sektor ketenagakerjaan juga menjadi perhatian serius. Pemkot Serang saat ini tengah melakukan pemetaan potensi lapangan kerja, baik dalam negeri melalui pembangunan kawasan industri dan penguatan Ekonomi Kreatif, maupun peluang diluar negeri.
Agis mengungkapkan pihaknya telah menjajaki kerja sama dengan beberapa negara seperti Korea, Arab Saudi, Turki, Jerman, hingga Jepang. Khusus untuk Jepang, pada tahun 2025 tercatat sudah ada 30 warga yang diberangkatkan.
”Di Jepang mereka bekerja diberbagai sektor, mulai dari perawat, kebun, hingga sektor hospitality seperti resepsionis hotel. Untuk tahun 2026, target kita minimal 100 orang bisa diberangkatkan,” jelasnya.
Agis menekankan keterbatasan APBD tidak boleh menjadi penghalang untuk menjalankan program pendampingan tenaga kerja ke luar negeri. Ia mendorong adanya kolaborasi dan inovasi pendanaan diluar skema pemerintah.
”PR kita adalah melakukan inovasi kreatifitas untuk membuka peluang penganggaran non APBD. Jadi, ada anggaran atau tidak ada anggaran, program harus tetap jalan terus demi masyarakat,” pungkasnya.










